& CERPEN
*kISAH KASIH PUTIH ABU-ABU*
Pagi ini begitu cerah. Awan awan putih bergerak perlahan bagai pragawati berjalan diatas catwalk. Cahaya mentari yang hangat-hangat kuku, satu hal yang langkah di kota ini membuat orang betah beraktivitas di luar rumah. Burung-burung kecilpun tampak asyik mengempakkan sayapnya ke sana kemari menikmati hari. Seolah-olah ikut bernyanyi seirama dengan gerak nadi orang-orang yang diburu mimpi.
Minggu pagi ini jalan kompleks rumah ku cukup ramai dengan anak kecil yang bemain di jalan, apalagi dengan adanya club bicycle kompleks B. ya kompleks B, kompleks tempat tinggal ku. Pagi ini ku kayuh sepeda merah ku kuat-kuat sengaja untuk mencari keringat kesegaran pagi di pagi ini. Entah sudah berapa sentimeter jalan yang ku lalui. Aku memang lebih senang mengukur jalan yang ku lalui dengan satuan itu, biar terasa jauhnya. Sepeda pemberian ayah ini dilengkapi dengan klakson, spion, dan digital petunjuk kecepatan, juga bagasi di bawah tempat duduknya.
“Plakk….” Terdengar suara benturan, oh tidak, aku terjatuh dari sepeda saat bereaksi di atas trotoar, “kamu baik-baik saja?” seorang cowok yang cakep yang sedang jogging menghampiriku. “oh yeah, saya baik-baik saja” balas ku padanya sambil mengangkat sepeda ku berdiri, ku sembunyikan rasa sakitku, malu donk. Segera aku kayuh sepeda ku ini, dengan perlahan. Oouuuh lututku terasa sakit sekali saat terantuk trotoar tadi. Hingga aku sudah mengayuh sepeda ku, cowok itu masih saja memperhatikanku dari kejauhan, lewat spion tatapannya seperti saja melihat Shailene Woodley (pemain film The Secret Life Of Americzn Teenager), tak juga heran sih, memang teman sekolah ku kebanyakan bilang aku mirip Shailene, padahalkan Shailene yang mirip aku.
Di kompleks tempat tinggalku ini aku hidup bersama ayah, ibu dan kakak perempuan ku, tapi semenjak kepergian kakakku Ke yogjakarta untuk melanjutkan sekolah, kini kami hanya bertiga di rumah ini, sedangkan aku sering saja tidak di rumah karena aktivitas sekolah yang kadang padat dengan berbagai kegiatan, apalagi saat seperti ini, pertengahan semester yang menuntut lebih banyak menghabiskan waktu dengan bimbingan belajar dan kegiatan berbau ujian semester, membuatku betah tinggal di sekolah.
Ayah ku seorang bisnis di bidang peternakan dan pertanian, yang kadang membuatnya jarang berada di rumah, sedangkan ibu ku hanya lah IRT (ibu rumah tangga). Tak jarang ayah pergi pagi dan pulang malam, membuat ibu kesepian di rumah sendirian. Kini usia ku menginjak usia ke-17, “saatnya menjadi remaja yang mencari jati diri sebenarnya”, itu kata-kata yang selalu ku dengar dari dua buah alat komunikasi tanpa kabel antara aku dan kakak ku.
“Hai laila…” ibu menyapaku saat berpapasan di halaman depan rumah, “ya, bu” balasku, “pergi mandi sana, tubuh mu bau” canda ayah yang sedang duduk menikmati secangkir teh dan membaca Koran pagi Minggu ini, “ayah bisa aja, mana baunya, kan Cuma keringat dikit aja” jawabku sambil duduk di sebelah ibu yang lagi memotong roti. Ku cicipi potongan roti slai strawberi dari ibu, kemudian secangkir the manis buatannya. “laila masuk dulu yah mau mandi” ujar ku sambil meninggalkan ayah dan ibu di teras halaman rumah.
Ku tatap inci demi inci kamar ku ini, sungguh mirip kapal pecah yang tak pernah di sentuh sama sekali, beginilah keadaan kamarku yang penuh dengan serakan tumpukan buku, yang habis ku baca dan ku simpan di sembarang tempat, “aaagggh kamarku ini bikin repot aja, aku harus membereskannya, sebelum ibu melihatnya dan menyemprot ku dengan segudang kata-kata mutiara” kataku dalam bathin. Tak lama berlalu, kamarku asri lagi, bergegas ku ambil baju dan menuju kamar mandi tepat di samping kamar ku.
{{{
Masa-masa putih abu-abu ku habiskan di salah satu sekolah yang menjadi idola, yaa SMK N 1 PALOPO. Salah satu sekolah terkenal di kota ini, bangunan sekolah 3 lantai yang di padukan dengan taman atas bangunan, menjadi asri dan nyaman di pandang, fasilitas sekolah yang lengkap dan memudahkan dalam proses blajar. Tak heran banyak diantara kami yang betah menghabiskan waktu untuk belajar di tempat ini karena fasilitasnya.
Selain itu, murid-muridnya pun menjadi enjoy mengikuti proses belajar, guru masuk kelas, menjelaskan pelajaran seperlunya dan keluar ruangan dengan meninggalkan jejak berupa PR, makanya Cuma orang-orang kreatif bin inovatif yang bisa jadi murid andalan di sekolah ku, dan aku termasuk siswi tersebut, chiiieee,,,, nggak nyombong looh. Aku juga salah satu langganan siswi perpustakaan sekolahku yang di lengkapi dengan ac, itu membuatku betah berlama-lama disana untuk menghabiskan bacaan buku-buku yang ku baca.
{{{
Aku berjalan dengan wajah tertunduk menuju gedung sekolah ku, ada tugas yang harus aku serahkan pagi ini, ada lomba speech English yang harus aku selesaikan, ada lomba paket akuntansi yang harus aku ikuti, tengah asyik aku bermain dengan pikiranku yang memikirkan sejuta tugas yang harus aku laksanakan, dengan iseng aku tendang kaleng minuman yang menghadang jalanku memasuki gerbang sekolah. “Tunk ‘!!”
Uppss’’ sial, kaleng itu mendarat dengan sukses dijidat seorang siswi berwajah sangar dan sinis, wajahnya menoleh ke arahku dengan tatapan penuh amarah, gawat, dia menghampiri ku, jantungku berdetak diatas kecepatan maximum, segera aku meminta maaf dan dia tidak menerima permintaan maafku, tiba-tiba ia mendorong bahuku, dan aku terjatuh, ia merunduk, dan ….” Ternyata pukulan tangan kanannya hanya menghempas angin saja, berhenti seketika saat seseorang siswa menghadang tangan tersebut, “dia….” Dalam bathin ku, seperti cowok di minggu pagi yang memergokiku terjatuh dari sepeda, ya itu dia. Tiba-tiba siswi yang melayangkan tangan kanannya tersebut pergi meninggalkan kami. Cowok itu melengkungkan badannya, dan mengajukan tangannya seolah ingin membantu ku bangun dari perbaringan tanah, ku gapai jemarinya dan tepat aku berdiri di hadapannya.
“kamu baik-baik saja ?...Zul” tangan nya terulur sambil menyebut namanya.
“yah aku baik-baik saja Laila…”, balasku sambil menggenggam erat jabat tangan itu.
{{{
Ternyata Zul adalah siswa baru dari Makassar, pantas saja wajahnya asing bagiku, semenjak itu aku dan dia makin akrab, dia pintar, cakep nan mempesona. Bel tanda pelajaran dimulai telah bordering dari pojok ruang piket, saatnya naik melangkahkan kaki ke lantai 3, ya… kelas ku tepat berada di lantai 3, yang tiap harinya melangkah naik turun demi ilmu yang ingin ku dapatkan. Sejenak ku duduk di bangku depan meja guru, itu lah bangku pertama, bangku yang menjadi tempat favorit ku menerima pelajaran dari guru.
Guru yang dinantikan pun datang dari balik pintu, ada seseorang yang mengikutinya, dia adalah Zul, yang tadi pagi menolongku di taman sekolah, ternyata lagi, dia sekelas denganku. Saingan kelas pun menjadi bertambah, aku takut melepas peringkat yang selama ini ku pertahankan, namun ini semua harus sportif dalam bersaing. Zul ternyata sangat cekatan menangkap materi dari guru, kini ia menjadi pusat perhatian para guru yang tenggelam di kelas ku.
Aku mulai merasakan hal yang mendalam karena kekagumanku dengan sesosok pria baru di sekolahku, kini aku dan dia menjalin sebuah hubungan kasih yang tumbuh dari hari ke hari di sebuah sekolah yang mengakrabkan kami, semakin lama semakin kami menjadi pasangan yang diidam-idamkan siswa(i) di sekolah karena keakraban dan kepopularan kami yang berasal dari kreatifitas dan prestasi dalam mengikuti pelajaran, dan beberapa piala serta piagam yang kami sumbangkan untuk sekolah dalam mengikuti beberapa perlombaan, semenjak itu guru-guru bangga kepada kami. Kini aku senang bisa menjadi siswi yang bisa memberi goresan kebanggan tersendiri bagi sekolah dan diri pribadi.
:) *The end* :)
By : Nurlaila H.
Fb : Lailha Fayiila Cyank S’mua
Email : nurlaila.hatta@gmail.com
Blog : www.lailahatta.blogspot.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar